Studi Tafsir - Sekelumit Tentang Hermeneutika. (Part 1)
Oleh: Syarif Busthomy, Lc.
Al-Qur‟an merupakan kitab suci umat Islam. Untuk lebih memahami isi dan makna AlQur‟an, kajian tafsir sangat diperlukan guna mengetahui pesan Allah dibalik kalam-Nya yang indah yang tedapat didalamnya semua perintah-perintah dan larangan-larangan yang telah ditetapkan-Nya bagi sekalian manusia, dan untuk menemukan serta memahami petunjuk Allah di segala bidang . Al-Qur‟an memiliki posisi sentral dalam membentuk ajaran, pemikiran dan peradaban.
Perkembangan ilmu tafsir Al-Qur‟an mencapai kemajuan pesat sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern.dari abad keabad para ilmuawan islam di bidang tafsir tampil ke panggung sejarah menyumbangkan pikirannya bagi umat manusia dalam rangka memahi dan menghayati Al-Qur‟an sebagai sumber petunjuk dan ilmu.
Meskipun Ilmu Tafsir secara terminologis dan substansi sangat identik bahkan berurat dan berakar dalam Islam, tetapi dewasa ini, umat Islam mulai dikenalkan dengan metode hermeneutika sebagai instrumen alternatif untuk mengungkap maksud dibalik teks ayat-ayat AlQur‟an, salah satunya adalah metode hermeneutika. 8
Penggunaan hermeneutika dalam penafsiran Al-Qur‟an mendapat tanggapan yang beragam dari para ulama dan cendekiawan Muslim. Ada yang menyetujuinya dan ada pula yang menolaknya. Hal itu karena hermeneutika memang tergolong baru dalam khazanah tafsir AlQur‟an. Namun di tengah pro dan kontra, metode yang sejatinya merupakan bagian dari kajian filsafat ini tetap mengalami perkembangan signifikan di tangan para hermeneut (pengaplikasi hermeneutika) Muslim kontemporer.
Hermeneutika secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu teori atau filsafat tentang interpretasi makna. Secara etimologis, kata hermeneutik berasal dari bahasa Yunani hermeneuin yang berarti menafsirkan. Maka kata benda hermeneia secara harfiah dapat diartikan penafsiran atau interpretasi. Istilah tersebut dalam berbagai bentuknya dapat dibaca dalam sejumlah literatur peninggalan yunani kuno, seperti digunakan Aristoteles dalam sebuah risalah yang berjudul Peri Hermeneias (tentang penafsiran). Kata itu kemudian diserap ke dalam bahasa Jerman yaitu hermeneutik dan hermeneutics dalam bahasa Inggris.
Dalam terminologi modern, hermeneutika juga merupakan ilmu yang digunakan dalam mencari pemahaman teks secara umum, yaitu dengan memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang beragam dan saling berkaitan seputar teks dari segi karakteristiknya dan hubungannya dengan kondisi yang melingkupinya dari satu sisi serta hubungannya dengan pengarang teks serta pembacanya dari sisi yang lain. Selain itu, penting dicatat bahwa hermeneutika fokus membahas dengan serius seputar hubungan penafsir (atau kritikus teks sastrawi) dengan teks khususnya yang berkaitan dengan al-Kitab. Tujuan dari hermeneutika adalah untuk menemukan kebenaran dan nilai-nilai dalam Bible. 9
Ada juga yang mengatakan, hermeneutika adalah satu disiplin yang berkepentingan dengan upaya memahami makna atau arti dan maksud dalam sebuah konsep pemikiran. Dalam hal tersebut, masalah apa makna sesungguhnya yang dikehendaki oleh teks belum bisa kita pahami secara jelas atau masih ada makna yang tersembunyi sehingga diperlukan penafsiran untuk menjadikan makna itu transparan, terang, jelas, dan gamblang. 10
Hermeneutika adalah seni praktis, yang digunakan dalam hal-hal seperti berceramah, menafsirkan bahasa-bahasa lain, menerangkan dan menjelaskan teks-teks, dan sebagai dasar dari semua itu karena ia merupakan seni memahami, sebuah seni yang secara khusus dibutuhkan ketika makna sesuatu teks itu tidak jelas. Sebagai seni menafsirkan, hermeneutika mengharuskan tiga komponen, yakni teks, penafsir, dan penyampaian kepada pendengar. Hermeneutika berperan menjelaskan teks seperti apa yang diinginkan oleh si pembuat teks tersebut.
Hermeneutika berasal dari mitologi Yunani, Hermes, dewa yang bertugas menyampaikan dan menjelaskan pesan kepada manusia, dimana Hermes harus mampu menerjemahkan pesan yang dibawa ke dalam bahasa yang digunakan manusia. Pada dasarnya medium pesan adalah bahasa, baik lisan maupun bahasa tulisan. Jadi, penafsiran lewat bahasa, bukan bahasa itu sendiri.
Dengan demikian, hermeneutika yang diambil dari peran Hermes adalah sebuah ilmu atau seni menginterpretasikan sebuah teks melalui percobaan. Sehingga bisa dikatakan bahwa hermeneutika tidak bebas nilai. Karena istilah ini bukan merupakan sebuah istilah yang netral.
Al-Qur‟an merupakan kitab suci umat Islam. Untuk lebih memahami isi dan makna AlQur‟an, kajian tafsir sangat diperlukan guna mengetahui pesan Allah dibalik kalam-Nya yang indah yang tedapat didalamnya semua perintah-perintah dan larangan-larangan yang telah ditetapkan-Nya bagi sekalian manusia, dan untuk menemukan serta memahami petunjuk Allah di segala bidang . Al-Qur‟an memiliki posisi sentral dalam membentuk ajaran, pemikiran dan peradaban.
Perkembangan ilmu tafsir Al-Qur‟an mencapai kemajuan pesat sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern.dari abad keabad para ilmuawan islam di bidang tafsir tampil ke panggung sejarah menyumbangkan pikirannya bagi umat manusia dalam rangka memahi dan menghayati Al-Qur‟an sebagai sumber petunjuk dan ilmu.
Meskipun Ilmu Tafsir secara terminologis dan substansi sangat identik bahkan berurat dan berakar dalam Islam, tetapi dewasa ini, umat Islam mulai dikenalkan dengan metode hermeneutika sebagai instrumen alternatif untuk mengungkap maksud dibalik teks ayat-ayat AlQur‟an, salah satunya adalah metode hermeneutika. 8
Penggunaan hermeneutika dalam penafsiran Al-Qur‟an mendapat tanggapan yang beragam dari para ulama dan cendekiawan Muslim. Ada yang menyetujuinya dan ada pula yang menolaknya. Hal itu karena hermeneutika memang tergolong baru dalam khazanah tafsir AlQur‟an. Namun di tengah pro dan kontra, metode yang sejatinya merupakan bagian dari kajian filsafat ini tetap mengalami perkembangan signifikan di tangan para hermeneut (pengaplikasi hermeneutika) Muslim kontemporer.
Hermeneutika secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu teori atau filsafat tentang interpretasi makna. Secara etimologis, kata hermeneutik berasal dari bahasa Yunani hermeneuin yang berarti menafsirkan. Maka kata benda hermeneia secara harfiah dapat diartikan penafsiran atau interpretasi. Istilah tersebut dalam berbagai bentuknya dapat dibaca dalam sejumlah literatur peninggalan yunani kuno, seperti digunakan Aristoteles dalam sebuah risalah yang berjudul Peri Hermeneias (tentang penafsiran). Kata itu kemudian diserap ke dalam bahasa Jerman yaitu hermeneutik dan hermeneutics dalam bahasa Inggris.
Dalam terminologi modern, hermeneutika juga merupakan ilmu yang digunakan dalam mencari pemahaman teks secara umum, yaitu dengan memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang beragam dan saling berkaitan seputar teks dari segi karakteristiknya dan hubungannya dengan kondisi yang melingkupinya dari satu sisi serta hubungannya dengan pengarang teks serta pembacanya dari sisi yang lain. Selain itu, penting dicatat bahwa hermeneutika fokus membahas dengan serius seputar hubungan penafsir (atau kritikus teks sastrawi) dengan teks khususnya yang berkaitan dengan al-Kitab. Tujuan dari hermeneutika adalah untuk menemukan kebenaran dan nilai-nilai dalam Bible. 9
Ada juga yang mengatakan, hermeneutika adalah satu disiplin yang berkepentingan dengan upaya memahami makna atau arti dan maksud dalam sebuah konsep pemikiran. Dalam hal tersebut, masalah apa makna sesungguhnya yang dikehendaki oleh teks belum bisa kita pahami secara jelas atau masih ada makna yang tersembunyi sehingga diperlukan penafsiran untuk menjadikan makna itu transparan, terang, jelas, dan gamblang. 10
Hermeneutika adalah seni praktis, yang digunakan dalam hal-hal seperti berceramah, menafsirkan bahasa-bahasa lain, menerangkan dan menjelaskan teks-teks, dan sebagai dasar dari semua itu karena ia merupakan seni memahami, sebuah seni yang secara khusus dibutuhkan ketika makna sesuatu teks itu tidak jelas. Sebagai seni menafsirkan, hermeneutika mengharuskan tiga komponen, yakni teks, penafsir, dan penyampaian kepada pendengar. Hermeneutika berperan menjelaskan teks seperti apa yang diinginkan oleh si pembuat teks tersebut.
Hermeneutika berasal dari mitologi Yunani, Hermes, dewa yang bertugas menyampaikan dan menjelaskan pesan kepada manusia, dimana Hermes harus mampu menerjemahkan pesan yang dibawa ke dalam bahasa yang digunakan manusia. Pada dasarnya medium pesan adalah bahasa, baik lisan maupun bahasa tulisan. Jadi, penafsiran lewat bahasa, bukan bahasa itu sendiri.
Dengan demikian, hermeneutika yang diambil dari peran Hermes adalah sebuah ilmu atau seni menginterpretasikan sebuah teks melalui percobaan. Sehingga bisa dikatakan bahwa hermeneutika tidak bebas nilai. Karena istilah ini bukan merupakan sebuah istilah yang netral.
0 Response to "Studi Tafsir - Sekelumit Tentang Hermeneutika. (Part 1)"
Post a Comment